Jakarta, 27 Mei 2026 – Seorang khatib menyinggung pentingnya menjaga persatuan umat Islam di perantauan saat menyampaikan khutbah di hadapan Prabowo Subianto dalam momentum salat Hari Raya Idul Adha. Dalam khutbah tersebut, khatib mengingatkan bahwa umat Islam yang berada jauh dari tanah air tetap perlu menjaga solidaritas, kebersamaan, dan semangat persaudaraan di tengah kehidupan masyarakat internasional yang beragam. Pesan itu disampaikan sebagai refleksi nilai Iduladha yang mengajarkan pengorbanan, persatuan, dan kepedulian terhadap sesama. Kehadiran Prabowo dalam pelaksanaan salat Iduladha tersebut juga menjadi perhatian publik karena berlangsung dalam agenda kenegaraan di luar negeri. Suasana khutbah disebut berlangsung khidmat dengan penekanan kuat pada pentingnya menjaga identitas dan persatuan umat.
Dalam ceramahnya, khatib menyampaikan bahwa umat Islam di perantauan sering menghadapi tantangan sosial, budaya, dan lingkungan yang berbeda dibanding di negara asal. Karena itu, persatuan dan kebersamaan dianggap penting agar komunitas Muslim tetap mampu menjaga nilai-nilai agama sekaligus membangun hubungan baik dengan masyarakat sekitar. Khatib juga mengingatkan bahwa perbedaan latar belakang, organisasi, maupun pandangan tidak boleh menjadi alasan perpecahan di tengah umat. Menurutnya, semangat ukhuwah atau persaudaraan harus tetap dijaga, terutama saat berada di luar negeri sebagai bagian dari wajah bangsa Indonesia di mata dunia. Pesan tersebut mendapat perhatian jamaah yang hadir dalam pelaksanaan salat Iduladha.
Pengamat keagamaan menilai pesan mengenai persatuan umat di perantauan memiliki makna penting di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat Indonesia ke berbagai negara. Komunitas diaspora Indonesia, termasuk umat Muslim, dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga citra positif bangsa sekaligus memperkuat hubungan sosial di negara tempat tinggal mereka. Karena itu, nilai toleransi, persatuan, dan kerja sama dianggap penting untuk terus dijaga dalam kehidupan diaspora. Selain aspek keagamaan, persatuan di kalangan masyarakat Indonesia luar negeri juga disebut dapat membantu memperkuat solidaritas sosial ketika menghadapi tantangan tertentu. Momentum hari besar keagamaan seperti Iduladha sering menjadi ruang mempererat hubungan antarsesama warga Indonesia di luar negeri.
Di sisi lain, pengamat sosial menilai khutbah keagamaan dalam agenda kenegaraan sering mengandung pesan moral yang relevan dengan situasi masyarakat secara lebih luas. Selain mengingatkan nilai spiritual, khutbah juga menjadi sarana memperkuat pesan kebangsaan, toleransi, dan solidaritas sosial. Kehadiran pemimpin negara dalam kegiatan keagamaan dinilai memiliki simbol penting dalam menunjukkan kedekatan dengan masyarakat dan nilai-nilai keagamaan. Namun pengamat juga mengingatkan bahwa pesan persatuan harus diwujudkan secara nyata melalui sikap saling menghormati dan menghindari polarisasi di tengah masyarakat. Di era globalisasi dan media sosial saat ini, menjaga persatuan dianggap semakin penting untuk memperkuat stabilitas sosial dan kebangsaan.
Pesan khatib mengenai persatuan umat di perantauan di hadapan Prabowo akhirnya dipandang sebagai pengingat penting tentang nilai kebersamaan di tengah keberagaman. Banyak pihak menilai Iduladha memang bukan hanya tentang ibadah kurban, tetapi juga momen memperkuat solidaritas sosial dan persaudaraan antarsesama. Di tengah dinamika global dan kehidupan diaspora yang terus berkembang, persatuan umat dan bangsa dinilai menjadi modal penting untuk menjaga keharmonisan masyarakat Indonesia di mana pun berada.