Jakarta, 11 Oktober 2026 – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) mengajak para orang tua untuk berperan aktif dalam mendampingi anak membangun kebiasaan digital yang sehat, aman, dan bertanggung jawab. Perkembangan teknologi telah membuat perangkat digital menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kegiatan belajar, berkomunikasi, dan mencari hiburan. Namun, kemudahan akses internet juga menghadirkan berbagai tantangan yang perlu diperhatikan oleh keluarga. Anak-anak membutuhkan pendampingan agar mampu memahami manfaat sekaligus risiko penggunaan teknologi digital. Karena itu, keterlibatan orang tua menjadi faktor penting dalam membentuk perilaku digital yang positif sejak usia dini.
Penggunaan perangkat digital di kalangan anak terus menjadi perhatian seiring meningkatnya pemanfaatan internet dalam berbagai aktivitas. Telepon pintar, tablet, dan komputer memberikan kemudahan bagi anak untuk memperoleh informasi serta mengembangkan keterampilan baru. Berbagai aplikasi pendidikan juga dapat membantu proses pembelajaran apabila digunakan sesuai kebutuhan dan usia. Meski demikian, penggunaan teknologi tanpa pengawasan berpotensi membuat anak terpapar konten yang tidak sesuai dengan tahap perkembangannya. Oleh karena itu, orang tua perlu memahami aktivitas digital anak tanpa mengabaikan kesempatan mereka untuk belajar dan bereksplorasi.
Menkomdigi menekankan pentingnya membangun kebiasaan digital yang sehat melalui komunikasi terbuka antara orang tua dan anak. Pendampingan tidak cukup dilakukan hanya dengan membatasi penggunaan perangkat atau memeriksa aktivitas internet. Orang tua juga perlu menjelaskan alasan di balik aturan penggunaan teknologi agar anak memahami pentingnya menjaga keselamatan diri di ruang digital. Komunikasi yang baik dapat membantu anak merasa nyaman ketika menghadapi pengalaman tidak menyenangkan di internet. Dengan pendekatan tersebut, keluarga dapat membangun hubungan saling percaya dalam menghadapi perkembangan teknologi.
Salah satu langkah yang dapat diterapkan adalah menyusun kesepakatan mengenai waktu penggunaan perangkat digital di rumah. Pengaturan tersebut perlu mempertimbangkan usia anak, kebutuhan pendidikan, serta aktivitas sehari-hari yang tidak melibatkan layar. Waktu untuk tidur, berolahraga, berinteraksi dengan keluarga, dan melakukan kegiatan sosial tetap perlu mendapatkan perhatian. Orang tua juga dapat menetapkan waktu tertentu ketika perangkat digital tidak digunakan, seperti saat makan bersama atau menjelang tidur. Kebiasaan yang diterapkan secara konsisten dapat membantu anak memahami pentingnya keseimbangan antara aktivitas daring dan kehidupan nyata.
Selain pengaturan waktu, pemilihan konten digital menjadi aspek penting dalam menjaga keamanan anak. Orang tua dianjurkan mengenali aplikasi, permainan, serta platform media sosial yang digunakan anak sesuai batas usia dan ketentuan masing-masing layanan. Fitur pengawasan orang tua dapat dimanfaatkan untuk membantu membatasi akses terhadap konten tertentu dan mengelola aktivitas digital. Namun, penggunaan fitur tersebut sebaiknya tetap disertai penjelasan agar anak memahami tujuan perlindungan yang diberikan. Pendekatan edukatif dapat membantu anak mengembangkan kemampuan memilih informasi dan hiburan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Risiko keamanan digital juga perlu diperkenalkan kepada anak sejak dini dengan bahasa yang mudah dipahami. Ancaman seperti perundungan siber, penipuan daring, penyalahgunaan data pribadi, dan interaksi dengan orang tidak dikenal merupakan persoalan yang dapat muncul dalam penggunaan internet. Anak perlu memahami bahwa informasi pribadi, termasuk alamat rumah, nomor telepon, dan kata sandi, tidak boleh dibagikan sembarangan. Orang tua juga perlu mengajarkan langkah yang dapat dilakukan apabila anak menerima pesan mencurigakan atau mengalami perlakuan tidak menyenangkan. Kemampuan mengenali risiko menjadi bagian penting dalam membangun kemandirian digital secara bertahap.
Peran orang tua sebagai teladan juga memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan kebiasaan digital anak. Anak cenderung memperhatikan perilaku orang dewasa di lingkungan terdekatnya, termasuk cara menggunakan telepon pintar dan berinteraksi melalui media sosial. Apabila orang tua menerapkan penggunaan perangkat secara seimbang, anak memiliki contoh nyata mengenai kebiasaan digital yang bertanggung jawab. Sebaliknya, aturan yang hanya diberlakukan kepada anak tanpa diikuti perilaku serupa dari orang tua dapat menimbulkan kebingungan. Karena itu, pembentukan kebiasaan digital sehat sebaiknya menjadi komitmen bersama seluruh anggota keluarga.
Sekolah dan lingkungan masyarakat juga memiliki peranan dalam memperkuat literasi digital anak. Pendidikan mengenai keamanan internet, etika berkomunikasi, dan kemampuan memilah informasi dapat membantu anak menghadapi berbagai situasi di ruang digital. Kerja sama antara orang tua dan tenaga pendidik diperlukan agar nilai-nilai yang diajarkan di sekolah dapat diterapkan secara konsisten di rumah. Selain itu, kegiatan literasi digital dapat memberikan pemahaman kepada keluarga mengenai perkembangan teknologi serta risiko yang menyertainya. Pendekatan bersama tersebut diharapkan mampu menciptakan lingkungan digital yang lebih aman dan mendukung perkembangan anak.
Ajakan Menkomdigi menjadi pengingat bahwa perlindungan anak di ruang digital membutuhkan keterlibatan aktif keluarga, sekolah, pemerintah, dan penyelenggara platform teknologi. Pengawasan yang tepat perlu diimbangi dengan pendidikan agar anak tidak hanya terlindungi, tetapi juga mampu menggunakan teknologi secara mandiri dan bertanggung jawab. Orang tua diharapkan terus meningkatkan pemahaman mengenai perkembangan dunia digital sehingga dapat memberikan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan anak. Kebiasaan menggunakan internet secara sehat perlu dibangun melalui komunikasi, keteladanan, dan aturan yang diterapkan secara konsisten. Dengan dukungan tersebut, anak-anak diharapkan dapat memanfaatkan teknologi untuk belajar, berkreativitas, dan mengembangkan potensi tanpa mengabaikan keamanan serta kesejahteraan mereka.