Jakarta, 6 September 2026 – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas mengungkap perjalanan panjangnya membangun usaha hingga mampu memperoleh penghasilan yang jika disetarakan dengan nilai uang saat ini mencapai sekitar Rp1 miliar per bulan pada 1985. Cerita tersebut disampaikan Zulhas ketika berbicara dalam Lampung Financial Festival 2026 pada Sabtu, 5 September 2026. Sebelum mencapai kondisi finansial tersebut, ia mengaku sempat bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Kementerian Pertanian. Zulhas kemudian memilih meninggalkan pekerjaan tersebut karena merasa penghasilannya saat itu hanya mencukupi kebutuhan sehari-hari. Keputusan beralih menjadi pengusaha menjadi titik penting yang mengubah perjalanan kariernya. Ia mulai mempelajari perdagangan dan pemasaran secara mandiri sebelum membangun jaringan bisnis yang semakin luas. Pada pertengahan 1980-an, aktivitas perdagangannya bahkan telah menjangkau sejumlah negara dan wilayah di Asia.
Perjalanan Zulhas menuju dunia usaha bermula jauh sebelum dirinya dikenal sebagai politikus dan pejabat pemerintah. Ia berasal dari Lampung dan sempat menempuh pendidikan di Pendidikan Guru Agama Negeri Bandar Lampung. Ayahnya ketika itu menginginkan Zulhas melanjutkan pendidikan agama dan berharap anaknya dapat menjadi tokoh agama. Namun, Zulhas mengaku mengalami kesulitan mengikuti sejumlah mata pelajaran, terutama Bahasa Arab. Kondisi tersebut membuat perjalanan pendidikannya tidak berjalan sesuai rencana keluarga. Ia kemudian memilih jalur berbeda dengan melanjutkan pendidikan di sekolah umum. Keputusan tersebut sempat mendapat penolakan dari sang ayah, tetapi dukungan dari ibunya membuat Zulhas tetap melanjutkan pilihan hidup yang telah dibuatnya.
Setelah menyelesaikan sekolah menengah, Zulhas memutuskan merantau ke Jakarta meskipun ketika itu belum mempunyai jaringan maupun kenalan di ibu kota. Ia menceritakan bahwa sang ibu memberikan sejumlah perhiasan berupa kalung, cincin, dan gelang sebagai bekal awal untuk merantau. Modal tersebut digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan ketika mulai menjalani kehidupan secara mandiri di Jakarta. Zulhas sempat mencoba melanjutkan pendidikan dengan mendaftar ke fakultas kedokteran, tetapi tidak berhasil diterima. Perjalanan hidupnya kemudian membawanya bekerja sebagai PNS di Kementerian Pertanian yang pada masa tersebut masih mempunyai struktur berbeda dengan kementerian saat ini. Menjadi pegawai negeri memberikan penghasilan tetap, tetapi Zulhas merasa pendapatan tersebut belum sesuai dengan target kehidupan yang ingin dicapainya. Dari kondisi itulah ia mulai mempertimbangkan untuk mencari peluang lain melalui dunia usaha.
Salah satu pengalaman yang menurut Zulhas memengaruhi keputusan tersebut terjadi ketika dirinya sering mengunjungi Pasar Mester di kawasan Jakarta Timur. Ia memperhatikan sejumlah pedagang yang dinilainya berhasil membangun kehidupan ekonomi lebih mapan melalui aktivitas perdagangan. Pengamatan tersebut membuatnya penasaran mengenai cara pedagang mengembangkan usaha dan mengelola pendapatan. Zulhas kemudian mulai mencari pengetahuan mengenai bisnis melalui berbagai buku. Ia membaca materi mengenai keuangan, cara membangun usaha, dan strategi meningkatkan pendapatan. Tidak berhenti pada pembelajaran mandiri, ia juga mengikuti sejumlah kursus untuk mendapatkan keterampilan yang dapat diterapkan dalam bisnis. Dari berbagai bidang yang dipelajarinya, Zulhas akhirnya memilih mendalami marketing atau pemasaran sebagai kemampuan utama untuk mengembangkan usaha.
Keputusan meninggalkan status PNS kemudian membuka perjalanan baru bagi Zulhas sebagai pengusaha. Ia mulai menerapkan pengetahuan pemasaran yang diperoleh dari buku maupun pelatihan untuk mencari peluang perdagangan. Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, Zulhas juga pernah menceritakan bahwa masa awal usahanya diisi dengan kegiatan berdagang berbagai kebutuhan rumah tangga. Aktivitas tersebut dilakukan sembari terus membangun jaringan dan mencari peluang bisnis yang lebih besar. Menurut pengakuannya, perkembangan usaha berlangsung cukup cepat pada awal hingga pertengahan dekade 1980-an. Kemampuan pemasaran menjadi salah satu keterampilan yang menurutnya berperan penting dalam perkembangan tersebut. Ia juga berusaha memperluas relasi dengan pelaku usaha lain agar tidak hanya bergantung pada pasar yang terbatas. Dari proses tersebut, jaringan perdagangannya secara bertahap mulai menjangkau pasar internasional.
Pada 1985, Zulhas mengaku sudah menjalankan aktivitas perdagangan dengan sejumlah mitra di Asia. Negara yang disebutnya antara lain Tiongkok dan Korea Selatan, sementara aktivitas bisnisnya juga menjangkau Taiwan dan Hong Kong. Ia bahkan menceritakan pada masa tersebut sudah beberapa kali melakukan perjalanan ke Seoul untuk kepentingan perdagangan. Jaringan lintas negara itu menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan bisnis yang dijalankannya ketika masih berusia muda. Dari aktivitas usaha tersebut, Zulhas menyebut penghasilannya pada 1985 apabila dihitung menggunakan nilai uang sekarang telah setara sekitar Rp1 miliar setiap bulan. Pernyataan itu merupakan perhitungan yang disampaikan Zulhas sendiri sebagai gambaran nilai penghasilannya ketika itu, bukan berarti ia menerima nominal Rp1 miliar dalam nilai rupiah tahun 1985. Perbedaan tersebut penting karena nilai uang dan daya beli pada pertengahan 1980-an sangat berbeda dibandingkan kondisi saat ini.
Zulhas tidak menjelaskan secara terperinci komposisi pendapatan maupun jenis transaksi yang menghasilkan angka tersebut. Namun, ia menekankan bahwa pencapaiannya berkaitan dengan perkembangan kegiatan perdagangan dan kemampuan memperluas jaringan bisnis. Pada tahun berikutnya, yakni 1986, Zulhas mengaku sudah mempunyai empat rumah. Perkembangan aset tersebut digunakannya untuk menggambarkan perubahan kondisi ekonomi setelah memilih meninggalkan pekerjaan sebagai PNS dan menekuni dunia usaha. Menurutnya, keberhasilan tidak muncul secara tiba-tiba karena terdapat proses belajar, keberanian mengambil keputusan, serta kegagalan yang harus dihadapi sebelumnya. Ia juga menilai seseorang perlu mempunyai tujuan yang jelas ketika memilih suatu jalur pekerjaan atau usaha. Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari pesan yang disampaikannya kepada generasi muda dalam berbagai kesempatan.
Cerita mengenai penghasilan pada 1985 juga digunakan Zulhas untuk menekankan pentingnya kemampuan membaca peluang. Menurutnya, pendidikan formal tetap penting, tetapi keterampilan dan keberanian mengambil keputusan juga mempunyai pengaruh besar terhadap perjalanan seseorang. Ia mencontohkan dirinya yang mengalami perubahan arah pendidikan, gagal masuk fakultas kedokteran, sempat menjadi PNS, kemudian memilih menjadi pengusaha. Setiap perubahan tersebut membawa tantangan sekaligus kesempatan yang berbeda. Zulhas mengingatkan bahwa perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu berlangsung melalui jalur yang lurus. Kegagalan pada satu tahap tidak otomatis menentukan hasil akhir seseorang apabila tetap mempunyai kemauan untuk belajar. Karena itu, generasi muda didorong untuk membangun kemampuan yang sesuai dengan bidang yang ingin ditekuni dan tidak takut menghadapi perubahan.
Kemampuan membuat perencanaan juga menjadi salah satu hal yang ditekankan Zulhas ketika menceritakan perjalanan finansialnya. Ia menilai seseorang perlu mengetahui tujuan yang ingin dicapai sebelum menentukan langkah untuk mewujudkannya. Target tersebut kemudian perlu diikuti dengan peningkatan keterampilan dan kemampuan membaca perkembangan lingkungan. Dalam konteks pengalamannya, keputusan mempelajari pemasaran menjadi salah satu langkah yang kemudian membuka peluang lebih luas di dunia perdagangan. Jaringan bisnis lintas negara juga tidak terbentuk secara langsung, tetapi berkembang setelah ia mulai membangun relasi dan memperluas kegiatan usaha. Pengalaman itu menunjukkan perubahan kondisi finansialnya terjadi melalui beberapa tahapan, mulai dari merantau, bekerja, belajar pemasaran, hingga menjalankan bisnis. Zulhas menggunakan perjalanan tersebut sebagai contoh bahwa keberanian mengambil risiko perlu disertai persiapan dan proses belajar yang berkelanjutan.
Kisah penghasilan setara Rp1 miliar per bulan pada 1985 menjadi salah satu bagian dari perjalanan Zulhas sebelum memasuki dunia politik dan pemerintahan. Setelah membangun karier di dunia usaha, ia kemudian aktif dalam organisasi dan politik hingga pernah menduduki sejumlah jabatan penting, termasuk Menteri Kehutanan, Ketua MPR, Menteri Perdagangan, dan kini Menteri Koordinator Bidang Pangan. Pengalaman bisnis pada masa mudanya tetap kerap dibagikan ketika memberikan motivasi kepada mahasiswa maupun generasi muda. Zulhas menekankan pentingnya keberanian, kemampuan belajar, serta perencanaan dalam membangun masa depan. Pengakuan mengenai besarnya penghasilan tersebut juga menggambarkan perkembangan bisnis yang menurutnya telah mencapai pasar internasional sejak pertengahan 1980-an. Meski tidak memerinci seluruh sumber dan nilai transaksi bisnisnya pada masa tersebut, Zulhas menyebut aktivitas perdagangan dan kemampuan pemasaran sebagai bagian utama yang membentuk kesuksesan finansialnya. Perjalanan dari PNS menuju dunia usaha itu kemudian menjadi fondasi sebelum kariernya berkembang lebih jauh ke ranah politik dan pemerintahan.