Paris, 29 Juli 2026 – Zinedine Zidane meninggalkan jejak besar dalam sejarah Piala Dunia bersama tim nasional Prancis. Sang maestro tampil dalam tiga edisi, yakni 1998, 2002, dan 2006, dengan perjalanan yang menghasilkan gelar juara dunia, final dramatis, serta sejumlah pertandingan individu yang terus dikenang. Zidane bukan penyerang dengan koleksi gol luar biasa banyak, tetapi kemampuannya mengendalikan tempo, menciptakan ruang, dan tampil menentukan ketika tekanan mencapai puncaknya membuat namanya memiliki tempat khusus. Piala Dunia 1998 menjadi awal kisah besarnya ketika Prancis meraih gelar dunia pertama, sedangkan edisi 2006 menjadi panggung terakhir sebelum ia pensiun. Dari perjalanan tersebut, setidaknya ada lima pertandingan yang menggambarkan betapa dominannya Zidane ketika berada dalam performa terbaik.
Penampilan pertama yang tidak mungkin dilewatkan adalah final Piala Dunia 1998 melawan Brasil. Bermain di hadapan publik sendiri, Prancis menghadapi juara bertahan dengan tekanan luar biasa besar. Zidane kemudian menjadi protagonis melalui dua gol sundulan pada babak pertama yang membawa Les Bleus menguasai pertandingan sebelum akhirnya menang 3-0. Dua gol tersebut terasa istimewa karena Zidane bukan pemain yang identik dengan penyelesaian melalui sundulan, tetapi ia mampu memanfaatkan dua situasi bola mati pada pertandingan terbesar. Malam itu mengubah Zidane dari bintang sepak bola Eropa menjadi ikon nasional dan mengantarkan Prancis meraih gelar Piala Dunia pertama sepanjang sejarah mereka.
Penampilan kedua datang saat Prancis menghadapi Spanyol pada babak 16 besar Piala Dunia 2006. Ketika itu Prancis sempat diragukan setelah melewati fase grup dengan perjalanan yang tidak sepenuhnya meyakinkan, sementara Spanyol datang dengan generasi pemain berbakat. Les Bleus tertinggal terlebih dahulu, tetapi mampu membalikkan keadaan dan menang 3-1. Zidane mengatur permainan dari lini tengah dan menutup pertandingan dengan mencetak gol pada menit-menit akhir. Aksinya melewati pertahanan sebelum menyelesaikan peluang menjadi simbol bahwa pemain berusia 34 tahun tersebut masih mampu menentukan pertandingan pada level tertinggi.
Pertandingan ketiga sekaligus yang kerap dianggap sebagai salah satu penampilan individu terbaik Zidane terjadi ketika Prancis menyingkirkan Brasil 1-0 di perempat final Piala Dunia 2006. Brasil datang dengan deretan bintang seperti Ronaldo, Ronaldinho, Kaká, Roberto Carlos, dan Cafu, tetapi Zidane justru menjadi pemain yang mengendalikan pertandingan. Sentuhan pertama, kontrol bola, umpan, perubahan arah permainan, hingga keberaniannya menghadapi tekanan membuat lini tengah Prancis tampil dominan. Tendangan bebas Zidane kemudian menghasilkan umpan yang diselesaikan Thierry Henry menjadi gol kemenangan. Pertandingan tersebut menjadi salah satu contoh terbaik bagaimana seorang gelandang dapat menguasai laga besar tanpa harus mencetak gol sendiri.
Penampilan keempat terjadi pada semifinal Piala Dunia 2006 melawan Portugal. Setelah melewati Brasil, Prancis menghadapi Portugal yang memiliki Cristiano Ronaldo, Luis Figo, Deco, dan sejumlah pemain berpengalaman lainnya. Pertandingan berlangsung ketat dan peluang untuk mencapai final ditentukan oleh detail kecil. Zidane mengambil tanggung jawab ketika Prancis mendapatkan penalti dan berhasil mencetak gol yang menjadi satu-satunya pembeda dalam kemenangan 1-0. Selain gol tersebut, ia berperan menjaga ritme permainan ketika Portugal meningkatkan tekanan untuk mencari gol penyeimbang. Kemenangan itu membawa Zidane menuju final Piala Dunia untuk kedua kalinya dalam kariernya.
Penampilan kelima adalah final Piala Dunia 2006 melawan Italia, sebuah pertandingan yang memperlihatkan dua sisi paling dramatis dalam perjalanan Zidane. Prancis mendapatkan penalti pada awal pertandingan dan Zidane mengambil keputusan berani dengan mengeksekusinya menggunakan gaya Panenka. Bola membentur bagian bawah mistar sebelum melewati garis gawang dan membawa Prancis unggul. Italia kemudian menyamakan kedudukan melalui Marco Materazzi sehingga pertandingan berlangsung hingga perpanjangan waktu. Zidane bahkan hampir mencetak gol melalui sundulan yang digagalkan Gianluigi Buffon, sebelum pertandingan kariernya berakhir dengan kartu merah setelah insiden dengan Materazzi.
Final 2006 memang tidak memberikan akhir sempurna bagi Zidane karena Prancis akhirnya kalah melalui adu penalti. Namun, keseluruhan turnamen memperlihatkan kemampuan seorang pemain veteran mengangkat performanya ketika memasuki fase gugur. Dari Spanyol, Brasil, Portugal hingga Italia, Zidane menjadi pusat permainan Prancis dalam perjalanan menuju final. Performanya sepanjang turnamen membuatnya mendapatkan Golden Ball sebagai pemain terbaik Piala Dunia 2006. Penghargaan tersebut menjadi penutup simbolis bagi perjalanan internasional seorang pemain yang tetap mampu menjadi figur utama bahkan dalam turnamen terakhir sepanjang karier profesionalnya.
Lima pertandingan tersebut menunjukkan bahwa warisan Zinedine Zidane di Piala Dunia tidak hanya dibangun melalui statistik. Final 1998 memberikan gelar dunia pertama bagi Prancis, sementara perjalanan 2006 memperlihatkan kemampuan teknis dan kepemimpinannya pada penghujung karier. Dua gol melawan Brasil pada 1998, permainan luar biasa menghadapi Brasil pada 2006, penalti penentu melawan Portugal, hingga Panenka di final menjadi bagian dari sejarah sepak bola Prancis. Zidane tampil di Piala Dunia terakhirnya pada usia 34 tahun, tetapi justru mampu menghasilkan beberapa pertunjukan terbaik dalam karier internasionalnya. Dari mengangkat trofi pada 1998 hingga meninggalkan lapangan untuk terakhir kalinya pada final 2006, perjalanan Zidane membuat namanya tetap dikenang sebagai salah satu pemain paling ikonik dalam sejarah Piala Dunia.