Jakarta, 1 September 2026 – PT Pelindo Sinergi Lokaseva mendorong penguatan resiliensi pelabuhan di kawasan ASEAN untuk menghadapi berbagai ketidakpastian yang memengaruhi perdagangan dan rantai pasok global. Komitmen tersebut disampaikan dalam ajang 24th ASEAN Ports and Logistics 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia. Direktur Utama PT Pelindo Sinergi Lokaseva Faruq Hidayat menjadi salah satu pembicara dalam sesi CEO Forum yang mempertemukan pelaku sektor pelabuhan, logistik, pelayaran, terminal, dan rantai pasok dari berbagai negara. Dalam forum tersebut, ia membahas pentingnya transformasi pelabuhan untuk menjaga konektivitas maritim di tengah perubahan dinamika perdagangan dunia.
Faruq menjelaskan sektor maritim saat ini menghadapi berbagai tantangan yang dapat memengaruhi kelancaran pergerakan barang. Konflik geopolitik, perubahan jalur pelayaran internasional, volatilitas harga energi, serta perubahan kebijakan perdagangan menjadi sejumlah faktor yang meningkatkan ketidakpastian. Kondisi tersebut dapat memberikan dampak terhadap waktu pengiriman, biaya logistik, hingga pola perdagangan antarnegara. Karena itu, pelabuhan tidak cukup hanya mengandalkan kapasitas operasional, tetapi juga harus memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan. Penguatan resiliensi menjadi salah satu kebutuhan agar pelabuhan tetap mampu menjalankan fungsi strategisnya dalam rantai pasok regional.
Dalam forum tersebut, Pelindo Sinergi Lokaseva memaparkan sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan ketahanan ekosistem pelabuhan. Salah satunya melalui transformasi layanan dengan memanfaatkan digitalisasi, standardisasi operasional, dan integrasi data. Digitalisasi dinilai dapat membantu meningkatkan efisiensi sekaligus mempercepat proses pelayanan kepada pengguna jasa pelabuhan. Integrasi data juga memungkinkan berbagai aktivitas dalam ekosistem maritim dapat dipantau secara lebih terkoordinasi. Penguatan teknologi menjadi semakin penting karena kebutuhan terhadap layanan logistik yang cepat, transparan, dan terintegrasi terus meningkat.
Pengembangan Maritime Ecosystem Platform menjadi salah satu bagian dari strategi tersebut. Platform tersebut diarahkan untuk mendukung agenda One Maritime Data yang dikembangkan pemerintah Indonesia serta menghubungkan berbagai layanan dalam ekosistem maritim. Integrasi dapat mencakup layanan kelautan hingga sistem manajemen pergudangan sehingga arus informasi dan barang dapat dikelola secara lebih efisien. Ketersediaan data yang terintegrasi juga dapat membantu pelaku usaha mengambil keputusan dengan lebih cepat. Pada akhirnya, pemanfaatan teknologi diharapkan dapat memperkuat daya saing pelabuhan sekaligus meningkatkan kemampuan menghadapi gangguan pada rantai pasok.
Selain digitalisasi, Pelindo Sinergi Lokaseva menekankan pentingnya integrasi antara pelabuhan dan kawasan pendukung atau port-hinterland integration. Pelabuhan tidak dapat dipandang sebagai fasilitas yang berdiri sendiri karena kelancaran aktivitasnya sangat bergantung pada kawasan industri, pergudangan, jaringan transportasi, dan pusat distribusi di sekitarnya. Integrasi yang lebih baik dapat memperlancar pergerakan barang dari dan menuju pelabuhan. Pendekatan tersebut juga berpotensi membantu menekan biaya logistik dengan mengurangi hambatan dalam rantai distribusi. Dengan ekosistem yang lebih terhubung, pelabuhan dapat berperan lebih besar sebagai penggerak aktivitas ekonomi.
Partisipasi Pelindo Sinergi Lokaseva dalam forum internasional tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkenalkan pengalaman Indonesia dalam melakukan transformasi pelabuhan. Indonesia memiliki wilayah kepulauan yang luas sehingga konektivitas maritim menjadi bagian penting dalam mendukung distribusi barang dan aktivitas ekonomi. Pengembangan pelabuhan yang terintegrasi dengan kawasan industri dan jaringan logistik dapat memperkuat konektivitas antardaerah. Pengalaman tersebut dapat menjadi bahan pertukaran pengetahuan dengan negara-negara ASEAN yang menghadapi tantangan serupa. Kolaborasi regional dinilai penting untuk membangun jaringan maritim yang semakin kuat dan adaptif.
Forum ASEAN Ports and Logistics 2026 juga membuka peluang kerja sama antara berbagai pemangku kepentingan di sektor maritim. Kegiatan tersebut mempertemukan operator pelabuhan, perusahaan logistik, pelayaran, regulator, investor, serta pelaku industri dari kawasan Asia Tenggara. Interaksi antarpelaku industri dapat membuka peluang pengembangan teknologi, investasi, dan model bisnis baru di sektor kepelabuhanan. Kerja sama lintas negara juga dapat mendukung peningkatan konektivitas perdagangan regional. Pelindo Sinergi Lokaseva menyatakan terbuka terhadap kolaborasi dengan berbagai mitra strategis untuk mengembangkan ekosistem pelabuhan yang lebih terintegrasi.
Penguatan resiliensi pelabuhan pada akhirnya berkaitan dengan kemampuan menjaga kelancaran rantai pasok ketika terjadi gangguan. Pelabuhan harus mampu beradaptasi terhadap perubahan pola perdagangan, gangguan jalur pelayaran, maupun perubahan kebutuhan industri. Peningkatan kualitas layanan dan penerapan teknologi dapat membantu mempercepat respons ketika terjadi perubahan kondisi. Sementara integrasi kawasan dapat memberikan fleksibilitas lebih besar dalam mengelola arus barang. Kombinasi berbagai pendekatan tersebut diharapkan dapat membuat ekosistem pelabuhan lebih tangguh dalam menghadapi ketidakpastian global.
Melalui partisipasinya di forum ASEAN, Pelindo Sinergi Lokaseva menegaskan komitmen untuk terus mendukung transformasi ekosistem kepelabuhanan Indonesia dan kawasan. Penguatan digitalisasi, integrasi pelabuhan dengan kawasan pendukung, peningkatan kualitas layanan, serta kolaborasi dengan mitra strategis menjadi bagian dari upaya tersebut. Strategi itu diharapkan mampu meningkatkan daya saing pelabuhan sekaligus memperkuat konektivitas maritim Indonesia dengan negara-negara ASEAN. Dengan ekosistem yang lebih terintegrasi dan adaptif, pelabuhan diharapkan dapat tetap menjadi penggerak perdagangan dan pertumbuhan ekonomi di tengah perubahan global yang semakin dinamis.