Jakarta, 11 September 2026 – Paparan abu vulkanik tidak hanya mengganggu jarak pandang dan membuat lingkungan dipenuhi debu, tetapi juga dapat meningkatkan jumlah partikel yang melayang di udara. Dua jenis partikel yang sering menjadi perhatian dalam pemantauan kualitas udara adalah PM10 dan PM2.5. Istilah PM merupakan singkatan dari particulate matter atau materi partikulat, sedangkan angka di belakangnya menggambarkan ukuran partikel berdasarkan diameter aerodinamis. PM10 mengacu pada partikel dengan diameter 10 mikrometer atau lebih kecil, sementara PM2.5 berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Perbedaan ukuran tersebut menentukan seberapa jauh partikel dapat memasuki sistem pernapasan manusia. Dalam kondisi abu vulkanik menyebar ke kawasan permukiman, pemahaman mengenai kedua jenis partikulat menjadi penting agar masyarakat dapat mengambil langkah perlindungan yang tepat.
Abu vulkanik terbentuk dari material batuan, mineral, dan material vulkanik yang terfragmentasi sangat halus ketika terjadi erupsi. Material tersebut dapat terbawa angin hingga jauh dari sumber erupsi, tergantung kekuatan letusan, ketinggian kolom abu, arah angin, dan kondisi atmosfer. Partikel yang lebih besar umumnya akan mengendap lebih cepat dan terkumpul pada permukaan tanah, bangunan, kendaraan, maupun vegetasi. Sebaliknya, partikel yang lebih kecil dapat bertahan lebih lama di udara dan terbawa ke wilayah yang lebih jauh. Kondisi inilah yang membuat kualitas udara dapat memburuk meskipun suatu kawasan berada cukup jauh dari gunung yang mengalami erupsi. Konsentrasi partikel juga dapat berubah dalam waktu relatif cepat mengikuti perubahan cuaca dan arah angin. Karena itu, kondisi udara selama periode erupsi perlu dipantau secara berkala.
PM10 mempunyai ukuran yang masih sangat kecil jika dibandingkan dengan benda yang dapat dilihat secara jelas oleh mata manusia. Ketika terhirup, sebagian partikelnya dapat melewati hidung dan tenggorokan sebelum mencapai saluran pernapasan. Paparan dalam jumlah tinggi dapat menyebabkan iritasi, batuk, rasa tidak nyaman pada tenggorokan, dan gangguan pernapasan pada sebagian orang. Risiko dapat meningkat apabila seseorang berada di luar ruangan dalam waktu lama ketika konsentrasi partikulat sedang tinggi. Aktivitas fisik berat juga membuat seseorang bernapas lebih cepat sehingga jumlah udara dan partikel yang masuk ke saluran pernapasan menjadi lebih banyak. Oleh sebab itu, masyarakat perlu mempertimbangkan kondisi kualitas udara sebelum melakukan aktivitas luar ruangan selama terjadi paparan abu. Mengurangi paparan menjadi langkah utama ketika konsentrasi partikel mengalami peningkatan.
PM2.5 mendapatkan perhatian lebih besar karena ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan PM10. Partikel halus tersebut dapat masuk lebih dalam ke sistem pernapasan hingga mencapai bagian paru-paru yang berperan dalam pertukaran udara. Karena ukurannya sangat kecil, PM2.5 juga dapat bertahan di atmosfer lebih lama dibandingkan sebagian partikel yang berukuran lebih besar. Dampak kesehatan tidak hanya ditentukan oleh ukuran partikel, tetapi juga konsentrasi, lama paparan, serta karakter material yang terkandung di dalamnya. Seseorang yang terpapar dalam waktu singkat pada konsentrasi tinggi dapat mengalami keluhan berbeda dibandingkan mereka yang terus-menerus terpapar dalam periode panjang. Karena itu, informasi mengenai PM2.5 sering digunakan untuk membantu masyarakat memahami tingkat pencemaran udara. Pemantauan menjadi semakin relevan ketika terjadi peristiwa yang menghasilkan partikulat dalam jumlah besar.
Kelompok tertentu membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi terhadap peningkatan konsentrasi partikulat. Anak-anak memiliki sistem pernapasan yang masih berkembang, sementara kelompok lanjut usia dapat mempunyai kemampuan tubuh yang lebih rendah dalam menghadapi paparan polutan. Orang dengan penyakit jantung atau gangguan pernapasan juga dapat lebih sensitif ketika kualitas udara memburuk. Namun, masyarakat yang sehat tetap dapat mengalami iritasi apabila konsentrasi partikel cukup tinggi atau paparan berlangsung dalam waktu lama. Keluhan seperti batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, mata perih, dan kesulitan bernapas perlu diperhatikan. Aktivitas luar ruangan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi udara dan rekomendasi otoritas setempat. Apabila muncul gangguan pernapasan yang berat atau memburuk, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan.
Penggunaan masker yang memiliki kemampuan menyaring partikulat dapat membantu mengurangi jumlah partikel yang terhirup ketika seseorang harus berada di luar ruangan. Masker perlu digunakan dengan benar dan menutup hidung serta mulut secara rapat agar fungsi penyaringan bekerja optimal. Masker yang longgar dapat memungkinkan udara masuk melalui celah sehingga efektivitas perlindungan berkurang. Masyarakat juga sebaiknya membatasi aktivitas luar ruangan ketika abu sedang turun dalam jumlah besar. Pintu dan jendela dapat ditutup untuk mengurangi masuknya partikel ke dalam rumah. Apabila tersedia, sistem penyaringan udara dapat membantu menjaga kualitas udara di dalam ruangan. Perlindungan perlu dilakukan secara konsisten terutama ketika pemantauan menunjukkan konsentrasi partikulat masih tinggi.
Abu yang telah mengendap juga perlu ditangani secara hati-hati karena dapat kembali beterbangan ketika tertiup angin atau terganggu aktivitas manusia. Membersihkan abu dengan cara menyapu dalam kondisi sangat kering dapat menghasilkan debu yang kembali masuk ke udara. Pembersihan sebaiknya dilakukan dengan metode yang meminimalkan penyebaran partikulat dan tetap mengikuti arahan petugas di wilayah terdampak. Masker dan pelindung mata dapat digunakan selama proses pembersihan untuk mengurangi paparan. Abu yang menumpuk pada atap juga perlu diperhatikan karena material dalam jumlah besar dapat memberikan beban tambahan terhadap struktur bangunan. Namun, pembersihan atap tidak boleh dilakukan apabila kondisi masih berbahaya atau berisiko menyebabkan kecelakaan. Keselamatan masyarakat harus tetap menjadi pertimbangan utama selama penanganan material vulkanik.
Selain sistem pernapasan, mata dapat mengalami iritasi ketika terkena partikel abu. Partikel yang masuk ke mata dapat menyebabkan rasa mengganjal, perih, berair, maupun kemerahan. Mata sebaiknya tidak digosok karena gesekan dengan material halus dapat memperparah iritasi pada permukaannya. Apabila abu masuk, mata dapat dibilas menggunakan air bersih dengan hati-hati. Penggunaan lensa kontak juga perlu dihindari ketika lingkungan masih dipenuhi abu karena partikel dapat terperangkap di antara lensa dan permukaan mata. Kacamata pelindung dapat membantu mengurangi paparan ketika seseorang harus melakukan aktivitas di luar ruangan. Apabila keluhan tidak membaik atau muncul gangguan penglihatan, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan.
Pemantauan kualitas udara menjadi salah satu cara untuk menentukan tingkat kewaspadaan selama penyebaran abu vulkanik. Angka konsentrasi PM10 dan PM2.5 dapat berubah sesuai intensitas sumber partikulat, arah angin, curah hujan, dan kondisi atmosfer. Hujan dapat membantu membawa sebagian partikel turun dari udara, tetapi kondisi setelahnya tetap perlu diperhatikan karena material dapat kembali mengering dan beterbangan. Masyarakat sebaiknya mengikuti informasi dari instansi berwenang mengenai kualitas udara dan perkembangan aktivitas vulkanik. Keputusan mengenai sekolah, pekerjaan luar ruangan, perjalanan, maupun kegiatan masyarakat dapat disesuaikan dengan tingkat risiko. Informasi yang diperbarui secara berkala juga membantu mencegah kepanikan akibat perubahan kondisi yang sebenarnya bersifat lokal. Kewaspadaan berbasis data lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan kondisi udara yang terlihat secara kasatmata.
Memahami perbedaan PM10 dan PM2.5 pada akhirnya membantu masyarakat mengetahui mengapa abu dan partikel halus di udara perlu mendapatkan perhatian selama aktivitas vulkanik. PM10 dapat memasuki saluran pernapasan, sementara PM2.5 yang lebih kecil mampu mencapai bagian paru-paru yang lebih dalam. Risiko kesehatan bergantung pada ukuran dan karakter partikel, konsentrasi di udara, durasi paparan, serta kondisi kesehatan masing-masing individu. Mengurangi aktivitas luar ruangan, menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai, menjaga udara dalam ruangan, serta membersihkan endapan abu secara aman dapat membantu menekan paparan. Masyarakat juga perlu mengikuti pemantauan kualitas udara dan arahan resmi karena kondisi dapat berubah mengikuti aktivitas gunung dan cuaca. Dengan kewaspadaan yang tepat, risiko kesehatan akibat peningkatan partikulat selama paparan abu vulkanik dapat diminimalkan.