Jakarta, 20 September 2026 – Partai Rusia Bersatu yang mendukung Presiden Vladimir Putin meraih kemenangan besar dalam pemilu parlemen Rusia dengan mengamankan rekor 355 dari total 450 kursi Duma Negara. Berdasarkan hasil penghitungan yang hampir selesai, Rusia Bersatu memperoleh sekitar 57,83 persen suara, meningkat dibandingkan 49,8 persen pada pemilu 2021. Perolehan tersebut melampaui rekor partai itu pada 2016 ketika berhasil mendapatkan 343 kursi. Hasil terbaru sekaligus membuat Rusia Bersatu mempertahankan mayoritas konstitusional di majelis rendah parlemen. Pemungutan suara berlangsung selama tiga hari pada 18 hingga 20 September 2026. Pemilu kali ini merupakan pemilihan anggota Duma pertama sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022.
Dengan 355 kursi, Rusia Bersatu menguasai hampir 80 persen komposisi Duma Negara. Jumlah tersebut jauh melampaui 226 kursi yang dibutuhkan untuk memperoleh mayoritas sederhana dan juga melewati ambang dua pertiga untuk mayoritas konstitusional. Posisi itu memungkinkan partai tersebut meloloskan berbagai undang-undang tanpa membutuhkan dukungan partai lain serta memainkan peran utama dalam proses perubahan konstitusi. Kemenangan tersebut memperpanjang dominasi Rusia Bersatu yang telah menjadi kekuatan utama dalam politik Rusia selama lebih dari dua dekade. Kremlin menyatakan hasil pemilu mencerminkan konsolidasi dukungan masyarakat terhadap kepemimpinan Putin. Namun, penilaian tersebut diperdebatkan oleh kelompok oposisi dan sejumlah pemerintahan Barat yang mempertanyakan kondisi kompetisi politik dalam pemilu.
Partai Komunis Federasi Rusia berada di belakang Rusia Bersatu dengan memperoleh sekitar 13,8 persen suara. Partai Demokrat Liberal Rusia atau LDPR memperoleh sekitar 9 persen, sedangkan New People mendapatkan hampir 8 persen. Just Russia juga berhasil melewati ambang batas 5 persen yang diperlukan untuk mendapatkan representasi melalui suara partai. Meski beberapa partai tetap berada di Duma, Rusia Bersatu mempunyai keunggulan kursi yang sangat besar dibandingkan seluruh pesaingnya. Sejumlah partai yang memperoleh kursi juga selama ini mendukung banyak kebijakan utama pemerintah, termasuk kebijakan terkait perang di Ukraina. Komposisi tersebut membuat perubahan keseimbangan kekuatan di Duma relatif terbatas setelah pemilu.
Tingkat partisipasi pemilih tercatat lebih dari 59 persen dari sekitar 111 juta warga yang memiliki hak pilih. Angka tersebut meningkat dibandingkan partisipasi pada pemilu Duma 2021 yang berada di kisaran 51,7 persen. Pemerintah Rusia menilai tingginya partisipasi menunjukkan masyarakat tetap aktif mengikuti pemilu meskipun negara menghadapi perang dan berbagai tekanan eksternal. Sementara itu, kelompok oposisi di pengasingan menyampaikan tuduhan mengenai berbagai penyimpangan dalam proses pemungutan suara. Kritik juga diarahkan pada pembatasan terhadap kelompok yang menentang pemerintah maupun perang di Ukraina. Otoritas Rusia menolak gambaran bahwa hasil pemilu tidak mencerminkan pilihan masyarakat dan menyatakan proses berlangsung sesuai ketentuan negara tersebut.
Pemilu juga mendapat perhatian internasional karena pemungutan suara dilakukan di sejumlah wilayah Ukraina yang berada di bawah pendudukan Rusia. Ukraina dan sejumlah negara Barat tidak mengakui pemungutan suara di wilayah tersebut dan menyatakan kawasan itu tetap merupakan bagian dari Ukraina berdasarkan hukum internasional. Uni Eropa turut mengkritik kondisi politik menjelang pemilu serta terbatasnya ruang bagi kelompok yang menentang Kremlin. Di dalam Rusia, kritik terbuka terhadap perang juga menghadapi berbagai pembatasan hukum sejak konflik berlangsung. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pihak yang mengkritik pemilu mempertanyakan tingkat kompetisinya. Pemerintah Rusia, sebaliknya, mempertahankan bahwa pemilu memberikan mandat politik yang kuat kepada parlemen baru.
Kemenangan Rusia Bersatu membuat pemerintahan Putin tetap memiliki dukungan dominan di Duma untuk menjalankan agenda politik selama periode parlemen berikutnya. Komposisi baru juga mencakup puluhan orang yang pernah terlibat dalam operasi militer Rusia di Ukraina. Kebijakan pertahanan, anggaran, ekonomi dan hubungan dengan negara-negara Barat diperkirakan tetap menjadi isu penting yang akan dihadapi parlemen baru. Mayoritas konstitusional memberikan Rusia Bersatu kemampuan besar untuk menentukan arah legislasi tanpa bergantung pada dukungan oposisi. Meski demikian, hasil pemilu tetap menjadi subjek perbedaan penilaian antara pemerintah Rusia, kelompok oposisi dan negara-negara yang mengkritik proses tersebut. Duma hasil pemilu 2026 selanjutnya akan memulai periode baru dengan Rusia Bersatu tetap menjadi kekuatan politik terbesar di parlemen.