Banda Aceh, 22 September 2026 – Kabar duka datang dari keluarga Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria. Ayahandanya, Sjamsul Kahar, meninggal dunia dalam usia 80 tahun setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Sjamsul mengembuskan napas terakhir di RSUD dr Zainoel Abidin, Banda Aceh, pada Kamis dini hari. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga kalangan pers di Aceh. Sjamsul dikenal sebagai salah satu tokoh yang memiliki perjalanan panjang dalam dunia jurnalistik.
Sjamsul Kahar diketahui telah menjalani perawatan intensif sejak 13 September 2026. Kondisinya mendapatkan penanganan medis hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 02.20 WIB. Setelah dari rumah sakit, jenazah dibawa menuju rumah keluarga di kawasan Keutapang, Aceh Besar, untuk menjalani prosesi fardu kifayah. Keluarga juga menyampaikan permohonan agar masyarakat memaafkan kesalahan almarhum selama hidupnya. Doa mengalir dari keluarga, kerabat, serta rekan-rekannya di dunia jurnalistik.
Sjamsul lahir di Sigli, Kabupaten Pidie, pada 9 Oktober 1945. Sebagian besar perjalanan hidupnya didedikasikan untuk perkembangan jurnalistik dan pers di Aceh. Sebelum menjadi salah satu tokoh penting pers daerah, ia pernah menjalani profesi sebagai wartawan yang bertugas meliput berbagai peristiwa di Tanah Rencong. Pengalaman panjang tersebut kemudian membawanya terlibat dalam pengembangan salah satu surat kabar utama di Aceh. Kiprahnya membuat Sjamsul dikenal luas di kalangan wartawan dan masyarakat setempat.
Salah satu bagian penting perjalanan karier Sjamsul adalah keterlibatannya dalam mengembangkan Mimbar Swadaya menjadi Harian Serambi Indonesia bersama M Nourhalidyn. Surat kabar tersebut mulai terbit pada 9 Februari 1989 dan kemudian berkembang menjadi bagian dari perjalanan pers Aceh. Sjamsul dipercaya memegang posisi penting dalam jajaran redaksi dan ikut menentukan arah pemberitaan. Berbagai peristiwa sosial, ekonomi, politik, budaya, hingga kemanusiaan di Aceh menjadi bagian dari perjalanan jurnalistik yang dilaluinya. Ia tetap aktif di dunia pers ketika Aceh menghadapi berbagai periode sulit.
Perjalanan Sjamsul sebagai jurnalis juga berlangsung ketika konflik masih terjadi di Aceh. Risiko terhadap pekerja pers pada masa tersebut cukup tinggi karena aktivitas jurnalistik kerap berhadapan dengan berbagai tekanan. Rumah Sjamsul pernah menjadi sasaran serangan bom molotov pada 1999. Ia juga pernah menerima ancaman berkaitan dengan pekerjaannya sebagai pimpinan redaksi. Meski menghadapi berbagai tantangan, aktivitas jurnalistiknya tetap berlanjut.
Sjamsul turut menghadapi salah satu periode paling berat ketika tsunami menghantam Aceh pada 26 Desember 2004. Bencana tersebut menghancurkan berbagai fasilitas dan menyebabkan banyak korban, termasuk dari kalangan pekerja pers. Dalam kondisi serba terbatas, Sjamsul bersama rekan-rekannya berupaya kembali menghadirkan informasi kepada masyarakat. Aktivitas penerbitan dapat dilanjutkan hanya beberapa hari setelah bencana dengan memanfaatkan fasilitas yang masih tersedia. Upaya tersebut menjadi bagian dari perjalanan pers Aceh dalam membantu masyarakat memperoleh informasi pada masa darurat.
Selain berkecimpung dalam perusahaan pers, Sjamsul juga pernah memimpin organisasi profesi wartawan di Aceh selama tiga periode. Kiprahnya selama puluhan tahun membuat namanya menjadi bagian dari sejarah perkembangan jurnalistik di daerah tersebut. Kepergiannya meninggalkan duka bagi keluarga, termasuk Nezar Patria, serta rekan-rekan yang pernah bekerja bersamanya. Jenazah direncanakan dimakamkan di Banda Aceh setelah seluruh prosesi keluarga selesai dilaksanakan. Jejak panjang Sjamsul Kahar dalam dunia jurnalistik akan tetap menjadi bagian dari perjalanan pers di Tanah Rencong.