Calang, 25 September 2026 – Kasus malaria di Kabupaten Aceh Jaya kembali mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir dan diduga berkaitan dengan meningkatnya aktivitas masyarakat di kawasan pertambangan emas rakyat. Dinas Kesehatan Aceh Jaya mencatat sebanyak 76 kasus malaria hingga 22 September 2026. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan Mei yang tercatat 30 kasus dan Juli sebanyak 56 kasus. Pemerintah daerah kini meningkatkan kewaspadaan terutama terhadap masyarakat yang bekerja dan beraktivitas di kawasan pertambangan dalam hutan. Langkah penanganan juga mulai diperkuat untuk mencegah bertambahnya kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Aceh Jaya Ferdian mengatakan peningkatan kasus berlangsung seiring bertambahnya aktivitas warga di sejumlah kawasan tambang emas. Lokasi pertambangan yang berada di dalam kawasan hutan menjadi perhatian karena banyak pekerja menghabiskan waktu cukup lama di lingkungan tersebut. Kondisi ini meningkatkan paparan terhadap nyamuk yang dapat membawa parasit penyebab malaria. Dinas Kesehatan karena itu menempatkan pekerja tambang sebagai salah satu kelompok yang perlu mendapatkan pengawasan lebih intensif. Pemeriksaan kesehatan juga akan diperluas di kawasan yang memiliki aktivitas pertambangan tinggi.
Sebagian besar kasus yang menjadi perhatian saat ini merupakan malaria knowlesi, yaitu malaria zoonosis yang dapat berpindah dari hewan ke manusia melalui perantara nyamuk. Kasus jenis tersebut banyak ditemukan berkaitan dengan aktivitas manusia di kawasan berhutan. Kondisi lingkungan sekitar pertambangan membuat pekerja berpotensi lebih sering bersentuhan dengan habitat nyamuk penular. Kasus serupa juga ditemukan pada pekerja tambang di Aceh Barat pada awal September, termasuk pekerja yang beraktivitas di wilayah Sungai Mas dan Aceh Jaya. Temuan itu semakin memperkuat perhatian pemerintah terhadap risiko malaria pada kelompok pekerja tambang.
Sebagai langkah penanganan, Dinas Kesehatan Aceh Jaya telah meningkatkan sosialisasi mengenai pencegahan malaria sekaligus membagikan kelambu kepada para penambang. Pemerintah daerah juga melakukan koordinasi lintas sektor untuk mempertahankan upaya eliminasi malaria yang selama ini dijalankan. Perangkat daerah diminta memperketat pengawasan kesehatan di kawasan pertambangan. Tokoh masyarakat dan pemuka adat turut dilibatkan untuk memperkuat edukasi kepada warga serta pekerja tambang. Penggunaan kelambu secara konsisten menjadi salah satu langkah perlindungan yang terus didorong kepada masyarakat berisiko.
Dinas Kesehatan bersama unsur TNI dan Polri juga direncanakan melakukan skrining atau pemeriksaan darah secara massal di pintu masuk kawasan tambang. Pemeriksaan tersebut ditujukan untuk menemukan kasus lebih awal sehingga pasien yang terinfeksi dapat segera memperoleh pengobatan. Pos kesehatan lapangan atau pos satelit darurat juga akan ditempatkan untuk mempercepat deteksi, pemeriksaan, dan penanganan pasien positif. Pemerintah meminta masyarakat melakukan gotong royong membersihkan lokasi yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Upaya tersebut dilakukan bersamaan dengan peningkatan pengawasan terhadap kondisi kesehatan pekerja tambang.
Peningkatan kasus menjadi tantangan bagi upaya eliminasi malaria yang telah dijalankan Aceh Jaya. Dokumen kinerja Dinas Kesehatan Aceh Jaya sebelumnya mencatat sejumlah hambatan dalam pengendalian malaria, termasuk kondisi geografis serta keterbatasan pengetahuan masyarakat mengenai penyakit dan penggunaan kelambu. Strategi yang telah diterapkan meliputi pembagian kelambu antinyamuk di daerah berisiko, penemuan dini dan pengobatan tepat, serta penguatan kemampuan tenaga kesehatan di tingkat puskesmas. Merebaknya kembali kasus pada 2026 membuat langkah pencegahan tersebut perlu semakin difokuskan pada kelompok yang sering beraktivitas di hutan. Kawasan pertambangan menjadi salah satu lokasi yang kini mendapatkan perhatian khusus.
Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya menekankan penanganan malaria membutuhkan keterlibatan berbagai pihak karena faktor risiko tidak hanya berkaitan dengan pelayanan kesehatan. Aktivitas masyarakat, kondisi lingkungan, serta mobilitas pekerja menuju kawasan tambang turut memengaruhi upaya pengendalian penyakit. Dinas Kesehatan berharap masyarakat segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala setelah beraktivitas di wilayah berisiko. Skrining massal dan keberadaan pos kesehatan lapangan diharapkan mempercepat penemuan kasus sebelum terjadi penyebaran lebih luas. Peningkatan kewaspadaan menjadi prioritas seiring jumlah kasus yang terus bertambah hingga September 2026.