Jakarta, 5 Juni 2026 – Persidangan perkara dugaan suap yang melibatkan sejumlah pihak di lingkungan Bea Cukai kembali menghadirkan fakta baru setelah seorang saksi mengaku pernah diminta untuk mencatat kode tertentu berupa angka Romawi yang disandingkan dengan nominal uang. Keterangan tersebut disampaikan di hadapan majelis hakim saat proses pemeriksaan saksi berlangsung. Menurut saksi, pencatatan itu dilakukan atas arahan pihak tertentu dan menjadi bagian dari administrasi yang berkaitan dengan aktivitas yang kini sedang diusut aparat penegak hukum. Pengakuan tersebut menarik perhatian karena diduga berkaitan dengan mekanisme pencatatan transaksi yang tidak dilakukan secara terbuka. Jaksa penuntut umum kemudian mendalami lebih lanjut maksud dan tujuan penggunaan kode-kode tersebut dalam rangkaian pemeriksaan di persidangan.
Dalam keterangannya, saksi menjelaskan bahwa dirinya tidak mengetahui secara pasti makna dari setiap kode yang dicatat, namun ia mengaku menjalankan instruksi yang diberikan oleh pihak yang memiliki kewenangan lebih tinggi. Catatan tersebut disebut berisi kombinasi angka Romawi dan sejumlah nominal uang yang dicatat secara berkala dalam dokumen tertentu. Selama menjalankan tugas tersebut, saksi mengaku tidak pernah memperoleh penjelasan rinci mengenai tujuan penggunaan sistem pencatatan tersebut. Meski demikian, catatan yang dimaksud kini menjadi salah satu materi yang ditelaah oleh penyidik dan jaksa dalam upaya mengungkap aliran dana yang diduga terkait dengan praktik suap. Keterangan saksi tersebut kemudian dikonfirmasi dengan sejumlah dokumen dan barang bukti yang telah diajukan dalam persidangan.
Jaksa menilai informasi mengenai penggunaan kode angka Romawi dan nominal uang dapat membantu menjelaskan pola komunikasi maupun mekanisme pencatatan yang digunakan oleh para pihak yang terlibat. Oleh karena itu, pemeriksaan terhadap saksi dilakukan secara mendalam untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai konteks pencatatan tersebut. Sejumlah pertanyaan juga diajukan terkait siapa saja yang mengetahui keberadaan catatan itu, bagaimana proses penyusunannya, dan kepada siapa laporan tersebut disampaikan. Majelis hakim turut memberikan kesempatan kepada para pihak untuk menggali lebih lanjut informasi yang dianggap relevan dengan pokok perkara. Proses tersebut menjadi bagian penting dalam upaya membangun konstruksi hukum yang utuh berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan.
Kasus dugaan suap di lingkungan Bea Cukai sendiri menjadi perhatian publik karena menyangkut integritas pelayanan publik dan pengawasan terhadap aktivitas perdagangan. Aparat penegak hukum terus berupaya mengungkap seluruh pihak yang diduga terlibat serta menelusuri aliran dana yang berkaitan dengan perkara tersebut. Sejumlah saksi telah dipanggil dan diperiksa untuk memberikan keterangan yang dapat membantu memperjelas rangkaian peristiwa yang menjadi objek penyidikan. Selain kesaksian, berbagai dokumen dan bukti elektronik juga menjadi bahan penting dalam proses pembuktian di pengadilan. Pengungkapan fakta-fakta baru dalam persidangan diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai dugaan pelanggaran yang terjadi.
Persidangan dijadwalkan akan terus berlanjut dengan agenda pemeriksaan saksi dan pendalaman sejumlah alat bukti lainnya. Jaksa penuntut umum menegaskan bahwa setiap keterangan yang muncul di persidangan akan dianalisis dan dicocokkan dengan bukti yang telah dikumpulkan selama proses penyidikan. Sementara itu, pihak terdakwa melalui kuasa hukumnya tetap diberikan kesempatan untuk menyampaikan bantahan maupun klarifikasi terhadap berbagai keterangan yang disampaikan para saksi. Majelis hakim diharapkan dapat menilai seluruh fakta secara objektif sebelum mengambil keputusan pada tahap akhir persidangan. Perkembangan kasus ini terus menjadi perhatian karena dinilai memiliki dampak penting terhadap upaya pemberantasan korupsi dan penguatan tata kelola pemerintahan yang bersih.