Batam, 7 September 2026 – Pemerintah Kota Batam, Kepulauan Riau, menilai gangguan penerbangan akibat dampak erupsi Gunung Anak Krakatau mulai memberikan tekanan terhadap aktivitas pariwisata dan industri Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE). Pembatalan sejumlah penerbangan dalam beberapa hari terakhir membuat mobilitas masyarakat dari dan menuju Batam ikut terganggu. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena konektivitas merupakan salah satu unsur penting dalam mendukung kegiatan pariwisata, bisnis, perdagangan, dan penyelenggaraan berbagai pertemuan di Batam. Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengatakan gangguan aksesibilitas pada daerah yang mengandalkan kegiatan MICE akan berpengaruh terhadap pergerakan ekonomi. Dampaknya tidak hanya dirasakan penumpang pesawat, tetapi juga dapat merambat terhadap kegiatan usaha yang bergantung pada kelancaran mobilitas orang dan barang. Pemkot berharap kondisi penerbangan dapat segera kembali normal setelah aspek keselamatan dinyatakan memungkinkan.
Menurut Amsakar, posisi Batam sebagai salah satu pusat kegiatan ekonomi dan logistik membuat konektivitas menjadi faktor yang sangat penting. Ketika jalur keluar dan masuk masyarakat mengalami hambatan, kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya berpotensi mengalami penundaan maupun perubahan. Hal serupa berlaku terhadap distribusi barang yang menjadi salah satu bagian penting dalam aktivitas ekonomi daerah. Industri MICE juga sangat bergantung pada kepastian transportasi karena peserta kegiatan dapat berasal dari berbagai wilayah di Indonesia maupun luar negeri. Pembatalan penerbangan yang berlangsung dalam waktu panjang berpotensi membuat penyelenggara menyesuaikan jadwal kegiatan. Karena itu, normalisasi konektivitas udara menjadi salah satu hal yang dinantikan pemerintah daerah dan pelaku usaha.
Gangguan penerbangan bahkan telah memengaruhi sejumlah agenda kerja Pemerintah Kota Batam yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung di Jakarta. Amsakar mengungkapkan terdapat beberapa pertemuan yang harus dihadiri, termasuk agenda dengan Putri Ratu Swedia yang kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepahaman terkait kelistrikan. Kondisi penerbangan membuat dirinya tidak dapat mengikuti agenda tersebut sesuai rencana. Namun, kegiatan pemerintah tetap dapat dilanjutkan karena Pemkot Batam diwakili Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra yang masih berada di Jakarta. Situasi tersebut menjadi contoh bagaimana gangguan transportasi udara dapat memengaruhi perjalanan kerja dan agenda antardaerah. Pada sektor swasta, persoalan serupa berpotensi terjadi terhadap perjalanan bisnis maupun peserta kegiatan MICE.
Pemkot Batam berharap gangguan akibat abu vulkanik tidak berlangsung terlalu lama sehingga jalur penerbangan dapat kembali dibuka secara normal dalam beberapa hari mendatang. Amsakar berharap dalam dua atau tiga hari sudah terdapat kepastian resmi dari pemerintah mengenai perkembangan operasional penerbangan. Namun, pembukaan jalur udara tetap harus mempertimbangkan berbagai indikator keselamatan. Kondisi udara, pergerakan abu vulkanik, serta informasi meteorologi menjadi beberapa aspek yang harus diperiksa sebelum penerbangan kembali berjalan normal. Pemerintah daerah memahami bahwa keselamatan penumpang dan awak pesawat harus menjadi pertimbangan utama. Karena itu, Pemkot tidak mendorong penerbangan dipaksakan beroperasi sebelum otoritas terkait memastikan kondisinya aman.
Dampak terhadap Batam mulai terlihat setelah sejumlah penerbangan dari dan menuju Bandara Internasional Hang Nadim mengalami pembatalan. Pada Minggu, 6 September, sedikitnya lima penerbangan dari dan menuju Batam dibatalkan sebagai dampak erupsi Anak Krakatau dan gangguan operasional di sejumlah bandara. Beberapa rute Batam terhubung langsung dengan Jakarta sehingga gangguan besar di kawasan penerbangan Ibu Kota turut memengaruhi pergerakan penumpang di Kepulauan Riau. Efek tersebut menunjukkan bahwa gangguan pada satu simpul penerbangan utama dapat merambat ke berbagai daerah. Batam menjadi salah satu wilayah yang merasakan dampaknya karena tingginya aktivitas perjalanan menuju Jakarta. Semakin lama kondisi tersebut berlangsung, semakin besar pula potensi penumpukan perjalanan yang harus dijadwalkan ulang.
Kondisi itu muncul ketika sektor pariwisata Batam sebenarnya sedang menunjukkan perkembangan positif sepanjang 2026. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Batam pada Januari hingga Juli 2026 tercatat mencapai 964.457 kunjungan. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 861.997 kunjungan. Wisatawan dari Singapura, Malaysia, dan China masih menjadi kelompok utama yang mengunjungi Batam. Pertumbuhan tersebut menjadi modal penting bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan kontribusi pariwisata terhadap perekonomian. Gangguan konektivitas yang berkepanjangan karena itu dikhawatirkan dapat mengurangi momentum pertumbuhan yang sudah terbentuk sejak awal tahun.
Batam mempunyai karakter pariwisata yang berbeda karena selain mengandalkan penerbangan, kota tersebut mempunyai konektivitas laut yang kuat dengan Singapura dan Malaysia. Wisatawan dari negara tetangga dapat mencapai Batam menggunakan kapal feri dalam waktu relatif singkat sehingga perjalanan jarak pendek menjadi salah satu kekuatan pasar daerah tersebut. Sebagian wisatawan bahkan melakukan perjalanan dalam satu hari untuk menikmati kuliner, berbelanja, atau mengunjungi tempat wisata sebelum kembali ke negara asal. Namun, sektor MICE mempunyai kebutuhan mobilitas yang lebih kompleks karena pesertanya dapat datang dari Jakarta dan berbagai kota lain melalui jalur udara. Ketersediaan penerbangan yang stabil menjadi penting untuk memastikan peserta dapat tiba sesuai jadwal kegiatan. Karena itu, gangguan penerbangan tetap dapat memberikan dampak signifikan meskipun Batam mempunyai jalur transportasi laut internasional.
Perkembangan konektivitas udara sebelumnya juga menjadi salah satu strategi untuk memperkuat daya tarik Batam sebagai destinasi pariwisata dan bisnis. Bandara Internasional Hang Nadim terus mengembangkan jaringan penerbangan domestik maupun internasional. Rute langsung Batam-Penang, Malaysia, misalnya telah dipersiapkan untuk mulai beroperasi pada Oktober 2026 dengan frekuensi tiga kali setiap pekan. Pembukaan rute tersebut diharapkan mendukung perjalanan wisata, bisnis, perdagangan, hingga kebutuhan medis masyarakat. Penambahan jaringan penerbangan juga memberikan lebih banyak pilihan kepada wisatawan yang ingin datang langsung ke Batam. Pengembangan konektivitas seperti ini menjadi penting agar Batam dapat memperkuat posisinya sebagai salah satu pintu masuk pariwisata di wilayah barat Indonesia.
Pemkot Batam menilai keselamatan tetap harus ditempatkan di atas kepentingan ekonomi selama gangguan penerbangan masih berkaitan dengan abu vulkanik. Material vulkanik dapat memberikan risiko terhadap penerbangan sehingga keputusan operasional harus mengikuti penilaian otoritas terkait. Pemerintah daerah memilih menunggu informasi mengenai perkembangan kondisi udara sebelum mendorong normalisasi perjalanan. Pada saat yang sama, pelaku pariwisata dan penyelenggara kegiatan MICE perlu melakukan penyesuaian terhadap agenda yang terdampak. Kegiatan yang tertunda masih dapat dijadwalkan kembali setelah akses penerbangan membaik. Fleksibilitas tersebut diperlukan agar kerugian akibat perubahan jadwal tidak semakin besar.
Amsakar berharap kondisi penerbangan segera pulih sehingga aktivitas pariwisata, MICE, logistik, dan perjalanan bisnis Batam dapat kembali berlangsung normal. Pertumbuhan kunjungan wisatawan sepanjang Januari-Juli menjadi salah satu alasan penting untuk menjaga momentum sektor pariwisata hingga akhir 2026. Namun, pemerintah daerah tetap menyadari bahwa gangguan akibat aktivitas vulkanik merupakan faktor alam yang membutuhkan pendekatan berbasis keselamatan. Jika pembatalan penerbangan hanya berlangsung sementara, dampaknya terhadap perekonomian diharapkan dapat segera dipulihkan setelah konektivitas kembali normal. Sebaliknya, gangguan yang berkepanjangan berpotensi memberikan tekanan lebih besar terhadap hotel, penyelenggara acara, transportasi, kuliner, dan berbagai usaha pendukung pariwisata. Pemkot Batam karena itu terus menantikan kepastian operasional penerbangan sambil mempersiapkan penyesuaian terhadap agenda yang terdampak.